STOKIST NASA AG- 3046 Info Pemesanan Atau Daftar Member NASA Hubungi Budianto / Rindra NASA Telf/ SMS / WA : 0878-6676-1675/ 0852-3212-8980 / +62-855-7484-4543

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAGUNG MODEREN ALA NASA

TEKNIS BUDIDAYA JAGUNG 082334020868

1. PENDAHULUAN
Di Indonesia jagung merupakan komoditi tanaman pangan penting, namun tingkat produksi belum optimal. PT. Natural Nusantara berupaya meningkatkan produksi tanaman jagung secara kuantitas, kualitas dan ramah lingkungan/berkelanjutan ( Aspek K-3). Sebelumnya perkenalkan Kami distributor resmi NASA atas nama RINDRA NASA dengan kode ID N-393316. Telf 082334020868
II. SYARAT PERTUMBUHAN
Curah hujan ideal sekitar 85-200mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 23derajat C- 30derajat C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersedian air baik, kemiringan tanah kurang dari 8%. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8%, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600m dpl.
TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAGUNG MODEREN ALA NASA
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
 A. Syarat Benih.
   Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibrida ). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih kurang lebih 20-30kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4cc/liter air semalam).

 B. Pengolahan Lahan
   Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak terbakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dicangkul dan diolah dengan bajak. Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-30cm, kemudian diratakan. Setiap 3m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30cm, kedalaman 20cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek. Didaerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, kurang lebih 1bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung.

 C. Pemupukan
WAKTU
DOSIS PUPUK MAKRO(PER HA)
DOSIS POC NASA
UREA
TSP
KCL
Perendaman benih
-
-
-
2 – 4 cc / liter aie
Pupuk Dasar
120
80
25
20 – 40 tutup / tangki siram merata
2 minggu
-
-
-
4 – 8 tutup / tangki  semrot atau siram
Susulan 1
(3 minggu)
115



4 minggu
-
-
-
4 – 8 tutup / tangki  semrot atau siram
Susulan II
(6 minggu)
115
-
-
4 – 8 tutup / tangki  semrot atau siram
Catatan: akan lebih baik pupuk dasar menggunakan SUPERNASA dosis kurang lebih 1botol/1000m2 dengan cara:
- Alternatif 1 :
1 botol SUPERNASA diencerkan dalam air 3ltr air (jadi larutan induk). Kemudian setiap 50 ltr air diberi 200cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.

- Alternatif 2 : 
1 gembor (10-15ltr) beri 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram kurang lebih 10m bedengan.
TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAGUNG MODEREN ALA NASA
D . Teknik Penanaman .
 1. Penentuan pola tanaman
Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan:
A. Tumpang sari ( intercropping ), melakukan penanaman lebih dari 1tanaman ( umur sama atau berbeda ). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.

B. Tumpang gilir (multiple cropping ), dilakukan secara beruntun sepajang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll.

C. Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ): pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok ( dalam waktu tanam bersamaan atau waktu yang berbeda ). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang.

D. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ): penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu.

2. Lubang Tanam dan Cara Tanam
     Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, smakin panjang umurnya jarak tanam smakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm ( 2 tanaman/lubang ).Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm ( 1 tanaman/lubang ). Panen < 80 hari, jarak tanamnya 20x50 cm ( 1 tanaman/lubang ). Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu.
TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAGUNG MODEREN ALA NASA
E. Pengelolaan Tanaman
1. Penjarangan dan penyulaman
Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat diatas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.

2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.

 3. Pembumbuan
Pembumbuan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan diatas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.

 4. Pengairan dan Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit diantara bumbunan tanaman jagung.

F. Hama dan Penyakit
1.Hama
A. Lalat Bibit (Atherigona exigua Stein)
Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. 

Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. 

Pengendalian: 
(1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. 
(2) tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan. 
(3) Sanitasi kebun. 
(4) semprot dengan PESTONA.

B. Ulat Pemotong
Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. 

Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilan; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung ( Helicoverpa armigera ). 

Pengendalian: 
(1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; 
(2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat didalam tanah); 
(3) Semprot PESTONA.

2. Penyakit
 A. Penyakit Bulai (Downy mildew)
Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 derajat c keatas serta keadaan udara lembab. 

Gejala: 
(1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; 
(2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; 
(3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. 

Pengendalian: 
(1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; 
(2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; 
(3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; 
(4) Preventif diawal tanam dengan GLIO.

B. Penyakit Bercak Daun (Leafblight)
Penyebab: cendawan Helminthosporium turcium. 

Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. 

Pengendalian: 
(1) pergiliran tanaman. 
(2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; 
(3) Preventif diawal dengan GLIO.

C. Penyakit Karat (Rust)
Penyebab: cendawan Puccinia Schw dan P.polypora Underw. 

Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. 

Pengendalian:
(1) mengatur kelembaban; 
(2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; 
(3) sanitasi kebun; 
(4) semprot GLIO.

 D. Penyakit Gosong Bengkak (Corn smut/boil smut).
Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo maydis DC.

Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan ini menyebabkan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. 

Pengendalian: 
(1) mengatur kelembaban; 
(2) memotong bagian tanaman dan dibakar; 
(3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA.
E. Penyakit Busuk Tongkol dan busuk biji
Penyebab:cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. 

Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. 

Pengendalian: 
(1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; 
(2) GLIO diawal tanam.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan perekat perata AERO 810, dosis kurang lebih 5ml (1/2 tutup)/tangki.
G. Panen dan Pasca panen
1. Ciri dan Umur Panen
Umur panen kurang lebih 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih,tepung, dll. dipanen jika sudah matang fisiologis.

2. Cara Panen
Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung.

3. Pengupasan
Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh.

 4. Pengeringan
Pengeringa jagung dengan sinar matahari (kurang lebih 7-8hari) hingga kadar air kurang lebih 9%-11% atau dengan mesin pengering.

5. Pemipilan
Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung.

6. Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghidari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.


CINTAILAH PRODUK DALAM NEGERI  MAJULAH PRODUK INDONESIA
MINAT HUBUNGI KAMI LANGSUNG
RINDA / BUDIANTO NASA
N-393316
DISTRIBUTOR RESMI NASA
082334020868 / 085232128980

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAGUNG MODEREN ALA NASA"

Posting Komentar